Beranda > OCTANE N > Bensin

Bensin

1. BAHAN BAKAR UNTUK MESIN BENSIN & DIESEL

Kebutuhan bbm baik untuk mesin bensin maupun mesin diesel mencakup 3 aspek teknis, yaitu:

Ø MUTU BAKAR (Ignition Quality)

Ø PENGUAPAN (Volatility)

Ø STABILITAS (Stability)

Untuk itulah bahan bakar perlu ditentukan persyaratannya (spesifikasi) dimana spesifikasi tersebut ditentukan bersama antara pembuat mesin dan pembuat bahan bakar.

Dalam spesifikasi bahan bakar bensin, ada spesifikasi kunci yang perlu diperhatikan yaitu:

KUALITAS STANDAR BENSIN

SIFAT-SIFAT PENGARUH BATASAN
Angka Oktana Riset (RON) Terjadi ketukan pada mesin, menyebabkan daya turun Min
Destilasi (OC) T 10 : Ujuk kerja saat startT 50 : AkselerasiT 90 : Output mesin

EP    : Distribusi bahan bakar

MakMin – MakMak

Mak

Korosi Bilah Tembaga Pengaruh korosi thp metal Mak
Oxidation Stability Tendensi pembentukan getah purwa (GUM) Min
Getah Purwa (GUM) Deposit saluran bahan bakar Mak
Kandungan Timbal (Lead)/ Metal Pengaruh pada kesehatan dan catalytic converter Mak
Kandungan Belerang Menyebabkan hujan asam Mak

JENIS IKATAN CARBON pada BBM

Jenis Ikatan Carbon Pengaruh pada pembakaran
PARAFFIN Jenuh, Angka Oktana Rendah, emisi bersih
OLEFIN Tidak jenuh, kecepatan pembakaran tinggi, kecenderungan membentuk gum dan ozon
AROMATIC Cyclic, sulit terbakar, Angka Oktana tinggi, membetuk deposit
NAPHTHENE Bersifat antara Olefin dan Aromatic

SPESIFIKASI BENSIN PREMIUM TANPA TIMBAL

Spesifikasi yang ditetapkan Pemerintah belum/tidak mewajibkan pemakaian aditif detergensi. Sehingga dampak pembakaran bbm pada ruang bakar dan katup tidak/belum dibatasi atau dipersyaratkan.

Demikian juga belum di syaratkan banyaknya kandungan Ikatan Carbon seperti Olifin, Aromatic, Parafin dan Naphthene.

Bahan bakar jenis Premium ini masih rentan terhadap pencemaran udara apa bila kondisi mesin kurang mendapat perhatian. Hal ini dapat bedampak meningkatnya pemanasan global. Oleh sebab itu untuk Amerika dan Eropa jenis bahan bakar dengan spesifikasi diatas sudah tidak boleh dipakai lagi pada tahun 2010.

SPESIFIKASI BAHAN BAKAR MINYAK JENIS BENSIN 91

(Termasuk PERTAMAX)

No Sifat-sifat Satuan Spesifikasi1) Metoda UJI
Min Mak ASTM/Lainnya
1 Densitas kg/m3 715 780 D 1298/D 4052
2 Angka Oktana Riset RON 91 D 2700
3 Kandungan Timbal gr/ltr 0.013 2) D 3341/D 5059
4 Kandungan Aromatic % vol 50.0 D 1319
5 Distilasi D  86
· 10% vol  penguapan pada °C 70
· 50% vol  penguapan pada °C 77 110
· 90% vol  penguapan pada °C 180
· Titik Didih °C 205
· Residu % vol 2.0
6 Tekanan Uap Reid pada 37,8 °C kPa 45 60 3) D 323
7 Getah Purwa mg/100ml 4.0 4.0 D 381
8 Periode Induksi menit 360 D 525
9 Kandungan Belerang % massa 0.10 D 1266
10 Korosi Bilah Tembaga 3 jam/50°C ASTM No. No. 1 D 130
11 Doctor Test atau Negatif IP – 3
Belerang Mercaptan % massa 0.0020 D 3227
12 Kandungan Oxigenate % vol 104) D 4806
13 Warna Dilaporkan Visual
14 Kandungan Pewarna Gr/100 Lt Dilaporkan
15 Fuel Injector Cleanliness % flow loses 5
16 Intake Valve Sticking Pass/fail pass
17 Intake Valve Cleanliness II
Metode 1, 4 valve average or avg 50 CEC-F-05-A-93
Metode 2, BMW Test or avg 100 D 5500
Metode 3, Ford 2,3 L avg 90 D 6201
18 Combustion Chamber Deposits
Metode 1, or % 140 D 6201
Metode 2, or Mg/mesin 3500 CEC-F-20-A-98

1) Spesifikasi menurut Persetujuan Prinsip Dirjen Migas No. 940/34/DJM.O/2002, tgl. 2 Desember 2002

2) Tanpa penambahan bahan yang mengandung Timbal

3) Penyesuaian dibenarkan dengan menggunakan Volatility Adjustment Table

4) Penggunaan oksigenat maksimum 10 % volume

Aditif yang digunakan harus kompatibel terhadap bahan bakar minyak yang digunakan

Spesifikasi No 16 s/d 18 disebut ”spesifikasi unjuk kerja”. Artinya dampak bbm setelah dipakai pada mesin harus memenuhi persyaratan tersebut. Kalau bbm hanya murni dari minyak bumi, persyaratan no. 16 s/d 18 sulit untuk dipenuhi. Oleh sebab itu diperlukan tambahan zat yang dapat ”membersihkan” ruang bakar dan katup, sehingga bbmnya memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.

SPESIFIKASI BAHAN BAKAR MINYAK JENIS BENSIN 95

(Termasuk PERTAMAX PLUS)

No Sifat-sifat Satuan Spesifikasi1) Metoda UJI
Min Mak ASTM/Lainnya
1 Densitas kg/m3 715 780 D 1298/D 4052
2 Angka Oktana Riset RON 95 D 2700
3 Kandungan Timbal gr/ltr 0.013 2) D 3341/D 5059
4 Kandungan Aromatic % vol 50.0 D 1319
5 Distilasi D  86
· 10% vol  penguapan pada °C 70
· 50% vol  penguapan pada °C 77 110
· 90% vol  penguapan pada °C 180
· Titik Didih °C 205
· Residu % vol 2.0
6 Tekanan Uap Reid pada 37,8 °C kPa 45 60 3) D 323
7 Getah Purwa mg/100ml 4.0 4.0 D 381
8 Periode Induksi menit 360 D 525
9 Kandungan Belerang % massa 0.10 D 1266
10 Korosi Bilah Tembaga 3 jam/50°C ASTM No. No. 1 D 130
11 Doctor Test atau Negatif IP – 3
Belerang Mercaptan % massa 0.0020 D 3227
12 Kandungan Oxigenate % vol 104) D 4806
13 Warna Dilaporkan Visual
14 Kandungan Pewarna Gr/100 Lt Dilaporkan
15 Fuel Injector Cleanliness % flow loses 5
16 Intake Valve Sticking Pass/fail pass
17 Intake Valve Cleanliness II
Metode 1, 4 valve average or avg 50 CEC-F-05-A-93
Metode 2, BMW Test or avg 100 D 5500
Metode 3, Ford 2,3 L avg 90 D 6201
18 Combustion Chamber Deposits
Metode 1, or % 140 D 6201
Metode 2, or Mg/mesin 3500 CEC-F-20-A-98

1) Spesifikasi menurut Persetujuan Prinsip Dirjen Migas No. 940/34/DJM.O/2002, tgl. 2 Desember 2002

2) Tanpa penambahan bahan yang mengandung Timbal

3) Penyesuaian dibenarkan dengan menggunakan Volatility Adjustment Table

4) Penggunaan oksigenat maksimum 10 % volume

Aditif yang digunakan harus kompatibel terhadap bahan bakar minyak yang digunakan

SPESIFIKASI MINYAK SOLAR

No Karakteristik Satuan BATASAN Metoda Uji ASTM
MIN MAK
1 Specific Gravity at 60/60oF 0,820 0,870 D-1298
2 Color ASTM 3,0 D-1500
3 Cetane Number atau 45 D-613
Calculated Cetane Index 48 D-976
4 Viskosity Kinematic at 100º F cSt 1,6 5,8 D445
Viskosity SSU at 100º F secs 35 45 D-88
3 Pour Point ºF 65 D-97
4 Suphur Content % wt 0,5 D-1551
Copperstrip Corrosion (3 hr/100ºC) No.1 D130
Conradson Carbon Residu % wt 0,100 D-189
Water Content % vol 0,05 D-95
Sedimen % wt 0,01 D473
Ash Content % wt 0.01 D482
Strong Acid Number mg KOH/g Nil D-93
Total Acid Number mg KOH/g 0,6
Flash Point PM cc º F 150
5 Distillation D-86
Recovery at 300ºC % vol 40

Spesifikasi menurut Persetujuan Prinsip Dirjen Migas No. 022/P/D.M/Migas/1997, 25 Mei 1979

HASIL UJI FISIKA KIMIA

MINYAK SOLAR dan MINYAK SOLAR+CETROL N15

No Karakteristik Satuan HASIL UJI Metoda Uji ASTM
SOLAR SOLAR + CETROL N15
1 Angka Cetana Riset 59.1 59.8 D 613 – 95
2 Densitas 15º C kg/m³ 845 845 D 1298
3 Viskositas 40º C mm²/s 4.28 4.27 D 445 – 97
4 Kandungan Sulfur % wt 0.132 0.130 D 2622 – 98
5 Destilasi D 86 – 99a
T – 90 º C 353.0 361.0
T  – 95 º C 365.0 374.0
Titik Didih Akhir º C 366.0 374.0
6 Titik Nyala º C 80 80 D 93 – 99c
7 Titik Tuang º C +2 +2 D 97
8 Residu Karbon % m/m 0.0083 0.0100 D 4530 – 93
9 Kandungan Air mg/kg nil nil D 1744 – 92
10 Korosi Bilah Tembaga menit 1a 1a D 130
11 Kandungan Abu % wt 0.000 0.000 D 482 -95
12 Bilangan Asam Kuat mg KOH/g Nil Nil D 664
13 Kandungan Sedimen % wt 0 0 D 473
14 Bilangan Asam Total mg KOH/g 0.0607 0.0659 D 664
15 Lubrisitas HFRR @ 60º C μ mm 217 208 D 6079

Hasil uji Minyak Solar yang telah di campur dengan Cetrol-N15 dengan perbandingan 1 : 1000 tidak menyebabkan spesifikasi minyak solar menyimpang dari ketentuan yang berlaku.

Sehingga dapat dikatakan bahwa aditif Cetrol N-15 tidak menyebabkan perubahan terhadap spesifikasi fisika dan kima. Akan tetapi dalam unjuk kerjanya minyak solar yang telah diberi aditif Cetrol N-15 akan meningkatkan ujuk kerja dari nbahan bakar tersebut, sehingga kinerja mesin menjadi lebih baik/meningkat.

2. MESIN BENSIN DAN PEMBAKARAN

PERSYARATAN TEKNIS MESIN KENDARAAN

HEMAT ENERGI

TENAGA TINGGI

EMISI GAS BUANG RENDAH

RANCANGAN INDUSTRI OTOMOTIF

MESIN  DIBUAT DARI BAHAN YANG RINGAN

UKURAN MESIN &VOLUME SILINDER DIPERKECIL

BEKERJA PADA PUTARAN MESIN YANG TINGGI

KONSEKUENSI

MESIN BEKERJA PADA KONDISI SERTA BEBAN LEBIH BERAT  & SITEM KATUP (VALVE TRAIN) MUDAH AUS

MEMBUTUHKAN MUTU BAHAN BAKAR & PELUMAS YANG HANDAL

PENAMBAHAN CATALYTIC CONVERTER BUTUH  BAHAN BAKAR TANPA TIMBAL DAN PELUMAS DENGAN KANDUNGN ASH / PHOSPOR RENDAH

Pada mesin bensin sistim injeksi, udara dimasukkan dalam ruang bakar, kemudian di tekan. Pada titik tertentu bahan bakar di semprotkan dan kemudian diberi penyalaan. Akibat pembakaran terjadilah pengembangan udara yang akan mendorong piston tutun kebawah.

Timing penyalaan, campuran udara dan bahan bakar yang tepat akan sangat berpengaruh terhadap proses pembakaran. Apabila tidak seimbang, maka terjadilah pembakaran yang tidak sempurna, yang menyebabkan terjadinya sisa pembakaran (deposit) yang akan mennyebabkan terjadinya kerak.

Penumpukan kerak ini akan menyebabkan penyepitan ruang bakar, dan pada akhirnya akan menyebabkan kebutuhan mutu bahan bakar akan berubah.

Proses atau reaksi pembakan dapat digambarkan sebagai berikut:

Contoh Reaksi Pembakaran untuk C8H18 (Iso-Oktan)

C8H18 + 12.5 O2+ 47.16 N2 ® 8 CO2 + 9 H2O + 47.16 N2 + PANAS

UDARA

Iso-Oktan adalah bahan bakar dengan Angka Oktana 100, dipakai sebagai bahan bakar referensi.

KEBUTUHAN ANGKA OKTANA RISET
BEBERAPA MERK KENDARAAN DI INDONESIA

No MERK KENDARAAN RON No MERK KENDARAAN RON
1 AUDI 95 – 98 10 MERCEDES 91 – 98
2 BMW 95 11 MITSUBHISHI 85 – 95
3 CHEVROLET 92 12 NISSAN 92 – 95
4 DAEWOO 87 – 92 13 OPEL 91 – 95
5 DAIHATSU 88 14 PEUGEOT 95 – 97
6 FORD 90 15 SUZUKI 87
7 HONDA 88 – 91 16 TOYOTA 85-95
8 LAND LOVER 91 – 95 17 VOLVO 91 – 95
9 MAZDA 85 – 95 SUMBER: GAIKINDO dan ATPM 2001

Kebutuhan Angka Oktana yang ditetapkan pabrik kendaraan, biasanya sudah mempertimbangkan terjadinya kenaikan kebutuhan Angka Oktane setelah kendaraan beroperasi di atas 20.000 km, dimana akibat deposit pada ruang bakar akan menyebabkan kenaikkan kebutuhan angka oktane. Oleh karena itu dapat dimaklumi apabila angka oktane yang ditetapkan pabrik mungkin ”terlalu tinggi”.

KENAIKAN KEBUTUHAN ANGKA OKTANA

Sumber: Palawagau La Puppung PPPTMGB ”LEMIGAS” (Penelitian Kebutuhan Angka Oktana Kendaraan Bermotor Bensin – 2004)

3. ADITIVE BBM DAN JENISNYA

Untuk mendapatkan bbm yang dapat memenuhi persyaratan spesifikasi yang ditetapkan dari minyak bumi (crude oil), maka bbm hasil kilang masih perlu di beri tambahan zat lain, agar mencapai spesifikasi yang dibutuhkan. Yang biasa ditambahkan adalah Aditif, yaitu: Suatu zat yang ditambahkan kedalam BBM dalam jumlah yang sangat kecil untuk memperbaiki mutu BBM. Aditive utama yang biasa ditambahkan kedalam BBM adalah: Pengungkit Angka Oktana dan Detergensi. Yang kadang juga ditambahkan dalam kondisi tertentu adalah : zat warna, aditif penurun titik beku (untuk bbm yang dipakai didaerah yang sangat dingin).

KARAKTERISTIK PRODUCT OCTANE-N dan CETROL-N15

  • KATALISATOR
    • Membantu menyempurnakan proses pembakaran dalam ruang bakar mesin.
  • DETERGENSI
    • Membersihkan dan menjaga kebersihan fuel system dari deposit/carbon.
  • RAMAH LINGKUNGAN
  • Merk Dagang Terdaftar OCTANE-N (HAKI) No. DOO-2006010273
  • Merk Dagang Terdaftar CETROL-N15 (HAKI) No. DOO-2007014181
  • Bahan dasar ± 70 % minyak atsiri Citronella (C10 H18 O)
  • Clean up, keep clean additive untuk mesin bensin dan diesel

Bio Aditif Octane-N dan Cetrol N-15 telah di uji pada mesin uji di Laboratorium PPPTMGB “LEMIGAS” dan juga di uji pada beberapa mesin komersial seperti pada Kendaraan Darat, Generator, Kapal bahkan telah di uji coba pada boiler dengan bahan bakar solar.

Hasil uji menunjukkan bahwa mesin yang bahan bakarnya di tambah dengan Bio Aditif baik Octane-N (bahan bakar bensin) maupun Cetrol N-15 (bahan bakar solar) mengalami peningkatan tenaga dan torsi, menurunkan emisi gas buang dan mengurangi pemakaian bahan bakar.

Aditif Octane-N TIDAK menaikkan angka oktan pada bbm yang dicampur, jadi hanya semata-mata Nama Dagang.

HASIL PENGUJIAN DAYA

BENSIN DENGAN OCTANE-N

HASIL PENGUJIAN TORSI

BENSIN DENGAN OCTANE-N

HASIL UJI EMISI GAS BUANG

KOMPONEN GAS BUANG SATUAN FR FA PERUBAHAN (%)
CO % 3.15 2.95 -7.30
HC ppm 834 761 -8.75
CO2 % 12.00 11.71 -2.50
O2 % 1.63 1.80 +10.43
λ 0.949 0.966 + 1.79

Hasil uji Daya, Torsi dan Emisi, menunjukkan bahwa Aditif Octane N yang dicampurkan dalam bensin akan membuat kendaraan menjadi:

· Drive ability kendaraan meningkat

· Gaya tarik kendaraan meningkat

Dengan demikian kendaraan akan lebih nyaman di operasikan. Sedangan dari hasil uji lapangan menunjukkan bahwa pemakain bahan bakar dapat dikurangan 8 – 12 %.

HASIL PENGUJIAN DAYA

SOLAR DENGAN CETROL-N15

HASIL PENGUJIAN KONSUMSI

SOLAR DENGAN CETROL-N15

Rata-rata – 5.72 %

U

HASIL PENGUJIAN OPASITAS (EMISI)

SOLAR DENGAN CETROL-N15

Untuk Bio Aditif Cetrol N-15 pengujian Laboratorium menunjukkan hasil yang sama, yaitu:

· Drive ability kendaraan meningkat

· Gaya tarik kendaraan meningkat

· Pemakaian bahan bakar menurun 5 – 20 %

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa:

­ Dengan spesifikasi bensin premium dan minyak solar yang ada, diperlukan penambahan aditif untuk menjaga kebersihan mesin, yaitu dengan menambahakan Bio Aditif Octane-N dan Cetrol N-15, agar kendisi mesin (saluran bahan bakar) tetap terjaga bersih.

­ Kebersihan saluran bahan bakar khususnya ruang bakar akan menjaga mesin tetap beroperasi dengan baik, sehingga biaya perawatan akan dapat ditekan.

­ Dengan penambahan Bio Aditif Octane-N pada bensin (baik Premium maupun Pertamax), dan pemabahan Cetrol-N15 minya solar, maka performance mesin akan meningkat, sehingga pengoperasian lebih nyaman.

­ Biaya penambahan Bio Aditif ini masih lebih rendah dari seluruh keuntungan yang akan diperoleh setelah pemakaian Bio Aditf.

Kategori:OCTANE N
  1. Zia
    26 Juni 2010 pukul 06:31

    tlong dong krimin spesifikasi bensin premium 88 serta sifat fisika dan kimia bensin ke e-mail Fauziahmute@yahoo.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: